BREBES – Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Brebes melalui Seksi Kesehatan Lingkungan (Kesling) menggelar kegiatan Orientasi Sekolah Sehat dan Sekolah Adiwiyata bagi Guru dan Petugas Pendamping Tenaga Sanitarian Lingkungan, Senin (14/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai tersebut digelar di Gedung IDI Kabupaten Brebes. Peserta terdiri atas perwakilan guru dari jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kabupaten Brebes, bersama pendamping tenaga sanitarian lingkungan dari puskesmas.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat penerapan budaya hidup bersih dan sehat sekaligus kepedulian terhadap lingkungan di satuan pendidikan.
Dalam sambutannya, Tenaga Sanitarian Lingkungan (TSL) Madya Dinkesda Kabupaten Brebes, Dhian Irawati Sutrisno, SKM, menyampaikan bahwa kegiatan orientasi tersebut juga berkaitan dengan persiapan Kabupaten Brebes dalam penilaian Kabupaten/Kota Sehat (KKS).
“Dalam pertemuan ini kita mempersiapkan nilai KKS. Semua kabupaten maupun kota akan mengikuti yang namanya KKS (Kabupaten/Kota Sehat), yang salah satunya adalah bidang pendidikan,” ujarnya.
Menurutnya, sektor pendidikan memiliki peran penting dalam membangun lingkungan sekolah yang sehat, bersih, nyaman, sekaligus mampu membentuk perilaku positif peserta didik sejak dini.
Materi pertama disampaikan oleh Lutfi Alfan, SE, dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Brebes. Ia memaparkan mengenai budaya lingkungan sekolah Adiwiyata.
Program Adiwiyata diarahkan untuk meningkatkan kepedulian dan kecintaan siswa terhadap lingkungan. Melalui budaya tersebut, siswa diharapkan tidak hanya memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga terlibat aktif dalam berbagai aksi nyata, termasuk upaya mengurangi timbulan sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
“Tujuannya meningkatkan siswa peduli dan ramah lingkungan serta berperan aktif dalam pengurangan penimbulan sampah di TPA,” jelas Lutfi.
Sementara itu, materi kedua disampaikan oleh Danang Margono, M.Pd, Kepala SMP Negeri 3 Wanasari Brebes, yang membahas mengenai Program Sekolah Adiwiyata.
Danang menekankan bahwa sekolah tidak hanya memiliki tugas memberikan pengetahuan akademik kepada siswa. Lebih dari itu, sekolah juga memiliki tanggung jawab dalam membentuk karakter peserta didik.
“Kalau sekolah hanya untuk mencari pengetahuan dan menulis itu biasa, tetapi yang susah adalah sekolah yang membantu siswanya membentuk karakter,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, dari 18 nilai pembentukan karakter, salah satunya adalah karakter peduli lingkungan. Karena itu, penerapan sekolah Adiwiyata harus diwujudkan melalui kegiatan dan kebiasaan nyata yang melibatkan seluruh warga sekolah.
Beberapa aspek yang perlu dilakukan sekolah antara lain aksi kebersihan dan sanitasi, pengelolaan sampah, pelestarian keanekaragaman hayati, penghematan dan konservasi energi, serta konservasi air.
Melalui orientasi tersebut, Dinkesda Brebes berharap guru dan tenaga sanitarian lingkungan dapat menjadi penggerak dalam menciptakan lingkungan sekolah yang sehat sekaligus berwawasan lingkungan.
Kolaborasi antara sekolah, puskesmas, Dinkesda, dan Dinas Lingkungan Hidup diharapkan mampu membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga menanamkan karakter peduli lingkungan kepada generasi muda.
Sekolah sehat dan sekolah Adiwiyata pada akhirnya bukan sekadar predikat, melainkan sebuah budaya yang tumbuh dari kebiasaan sehari-hari. Dari lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan peduli lingkungan, diharapkan lahir generasi Brebes yang sehat, berkarakter, dan bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.